1. Investasi

Reksadana Syariah serta Perkembangannya di Indonesia

Reksadana merupakan salah satu instrumen investasi yang dapat menjadi jawaban bagi para masyarakat yang ingin berinvestasi namun belum memiliki banyak modal. Bagi masyarakat yang memiliki perhatian tertentu perihal syariah, kini telah muncul reksadana syariah yang pengelolaan dananya mengikuti kaidah syariah islam. Artikel berikut ini akan membahas lebih lanjut mengenai reksadana syariah. Simak selengkapnya pada artikel Inklusi uang berikut ini.

Key Takeaways

  • Reksadana syariah adalah wadah yang menghimpun dana dari investor yang nantinya dana tersebut akan dikelola dan diinvestasikan oleh manajer investasi ke berbagai bentuk instrumen investasi yang memenuhi syariah islam.
  • Reksadana syariah dibentuk dengan tujuan agar para pemodal atau investor yang memiliki kekhawatiran tertentu perihal kaidah syariah dapat lebih mudah dalam menanamkan modalnya di reksadana tanpa harus khawatir perkara status syariahnya.
  • Reksadana syariah sendiri dikeluarkan secara langsung oleh OJK berdasarkan Daftar Efek Syariah (DES).

Apa Itu Reksadana Syariah?

Sebelum mengetahui apa itu reksadana syariah, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu apa itu reksadana secara umum. Reksadana merupakan wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal atau investor. Dana tersebut nantinya akan dikelola oleh manajer investasi dan diinvestasikan ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, deposito, obligasi, dan instrumen investasi lain.

Dengan berangkat dari pemahaman tentang apa itu reksadana, maka pengertian reksadana syariah adalah wadah yang menghimpun dana dari investor yang nantinya dana tersebut akan dikelola dan diinvestasikan oleh manajer investasi ke berbagai bentuk instrumen investasi yang memenuhi syariah islam. Selain instrumen investasi yang harus memenuhi syariah, pengelolaan dananya juga harus dikelola berdasarkan prinsip dan ketentuan syariah islam.

Reksadana syariah dibentuk dengan tujuan agar para pemodal atau investor yang memiliki kekhawatiran tertentu perihal kaidah syariah dapat lebih mudah dalam menanamkan modalnya di reksadana tanpa harus khawatir perkara status syariahnya. OJK sendiri sebagai badan pengawas jasa keuangan telah menetapkan berbagai ketentuan dan batasan agar proses investasi di reksadana syariah tetap sesuai dengan kaidah syariah agama islam.

Cara Kerja Reksadana Syariah

Dikarenakan reksadana jenis syariah merupakan instrumen investasi yang berbeda dengan reksadana yang konvensional, maka cara kerja dari kedua reksadana tersebut sudah pasti berbeda. Reksadana syariah sendiri dikeluarkan secara langsung oleh OJK berdasarkan Daftar Efek Syariah (DES). 

Pada DES ini, tercantum beberapa nama perusahaan beserta jenisnya yang telah mendapatkan izin untuk memperdagangkan reksadana berjenis syariah. Apabila suatu perusahaan telah lulus uji verifikasi DPS dan masuk ke dalam DES, maka kehalalan hasil perdagangan reksadana berjenis syariah pada perusahaan tersebut sifat kehalalannya dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu instrumen investasi pada reksadana jenis syariah telah melewati proses pembersihan kekayaan atau yang disebut juga dengan proses cleansing. Proses cleansing ini bertujuan untuk membersihkan kekayaan dari unsur tidak halal yang dilakukan oleh pihak manajer investasi. Tidak hanya itu, pada reksadana syariah juga terdapat akad wakalah bin ujrah yang dikuasakan pemodal kepada manajer investasi serta bank kustodian untuk pengelolaan modal.

Perbedaan Reksadana Syariah dan Konvensional

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa reksadana syariah akan menjalankan proses pengelolaan dana dan pembelian instrumen investasi berdasarkan kaidah syariah. Berikut merupakan perbedaan yang lebih mendetail antara reksadana konvensional dengan reksadana berjenis syariah.

Perbedaan Reksadana Syariah dan Konvensional dari berbagai aspek

Reksadana SyariahReksadana Konvensional
Pengelolaan dana pemodal dilakukan dengan berdasarkan prinsip serta kaidah syariah islam. Dalam praktiknya, pengelolaan dana pada reksadana berjenis syariah akan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) bersamaan dengan OJK.Pengelolaan dana pemodal dilakukan dengan berdasarkan prinsip kontrak investasi kolektif. Dalam praktiknya, pengelolaan dana investasi diawasi oleh OJK saja.
Dilakukan proses cleansing untuk membersihkan harta kekayaan dari unsur ketidakhalalan.Tidak melalui proses cleansing.
Dalam menentukan jenis saham, prinsip syariah dijadikan acuan utama dalam memilih saham perusahaan berikut juga dengan segala transaksi yang ada di dalamnya.Penentuan saham perusahaan serta transaksi yang ada di dalamnya tidak harus mengacu kepada prinsip dan kaidah syariah
Keuntungan investasi dibagikan ke pihak investor dan manajer investasi berdasarkan ketentuan yang sebelumnya telah disepakatiKeuntungan investasi dibagikan ke pihak investor dan manajer investasi berdasarkan suku bunga yang berlaku
Kerugian investasi ditanggung oleh investorKerugian atau risiko investasi ditanggung oleh manajer investasi berdasarkan prinsip kolektivitas

Reksadana syariah secara prinsip akan lebih menjamin terpenuhinya nilai dan prinsip syariah yang halal, aman, dan pastinya dapat menguntungkan. Namun perlu diketahui bahwasanya potensi mengalami kerugian tetap bisa terjadi karena pada dasarnya tidak ada investasi yang sama sekali terbebas dari risiko kerugian. Risiko tersebut perlu diketahui oleh calon investor, baik yang menggunakan produk investasi konvensional maupun syariah.

Keuntungan Reksadana Syariah

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan apabila menanamkan modal di reksadana berjenis syariah ini. Keuntungan yang pastinya sudah jelas adalah unit penyertaannya yang terjangkau. Masyarakat dapat membeli unit penyertaan reksadana syariah mulai dari Rp 100.000 saja. Hal ini tentunya memudahkan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi tetapi belum mampu untuk menyediakan modal yang cukup besar.

Selain itu juga pemodal dapat melakukan diversifikasi investasi untuk memperkecil risiko investasi dari reksadana. Apabila salah satu jenis instrumen investasi yang dimiliki pemodal sedang mengalami penurunan, investor bisa fokus kepada efek yang lain dan melakukan diversifikasi investasi agar tidak mengalami kerugian yang cukup besar.

Kemudian selanjutnya, reksadana jenis ini dalam pengelolaan modal investasinya akan dipantau dan dikelola oleh manajer investasi yang berpengalaman di bidangnya. Oleh karena itu, penanam modal di reksadana tidak perlu mengelola dan mengolah modal secara langsung karena seluruh hal tersebut telah menjadi tanggung jawab dari manajer investasi.

Namun ada satu hal yang pasti menjadi keuntungan dari reksadana syariah ketimbang instrumen investasi lainnya, yaitu kehalalannya yang dapat dipertanggungjawabkan karena telah melalui berbagai proses verifikasi dan regulasinya telah diatur oleh Dewan Pengawas Syariah dan juga OJK.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Investasi Reksadana

Apabila Anda telah melakukan berbagai macam pertimbangan dan akhirnya tertarik untuk berinvestasi di reksadana berjenis syariah, ada baiknya Anda memperhatikan beberapa hal berikut ini sebelum mulai berinvestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan tersebut antara lain:

  1. Reksadana dapat dibeli secara langsung melalui perusahaan manajer investasi selaku pihak yang menerbitkan dan mengelola reksadana. Selain itu juga reksadana dapat dibeli melalui bank yang bertindak sebagai APERD atau Agen Penjual Efek Reksa Dana
  2. Sebelum membeli reksadana, calon investor atau pemodal wajib terlebih dahulu memiliki kartu identitas berupa KTP atau SIM, dan juga Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) agar bisa membuka rekening sebelum membeli reksadana.
  3. Investor diwajibkan untuk melakukan proses Know Your Customer serta diwajibkan juga untuk melakukan pertemuan dengan APERD atau manajer investasi minimal 1 kali.

Perkembangan Reksadana Syariah di Indonesia

Dilansir dari statistik reksadana jenis syariah yang dirilis secara bulanan oleh OJK, perkembangan dari reksadana berjenis syariah dapat diamati mengalami tekanan dalam kurun waktu satu tahun terakhir di tahun 2022 ini. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai total dana kelolaan reksadana syariah yang terlihat mengalami penurunan pada akhir tahun 2021 dan cenderung mendatar hingga kuartal III pada tahun 2022.

Selain itu juga, jumlah reksadana bertipe syariah yang beroperasi mengalami penurunan dalam tahun 2022 ini. Diawali dengan 292 jumlah reksadana syariah pada bulan Januari 2022, lompat ke bulan Agustus 2022 jumlah reksadana syariah yang beroperasi menjadi berkurang sebanyak 19 angka menjadi tinggal 273 saja.

Penurunan jumlah reksadana tipe syariah dan total dana kelolaan yang turun tersebut disebabkan oleh beberapa alasan, salah satunya faktor obligasi yang telah memasuki masa jatuh tempo yang mempengaruhi reksadana jenis syariah yang sebagian tidak dapat digantikan dengan produk yang baru. 

Lalu juga terdapat faktor lain seperti BPKH sebagai pengelola dana haji Indonesia terus mengurangi porsi investasinya pada beberapa efek pasar modal sejak pertengahan 2021.

Rekomendasi Reksadana Syariah Terbaru 2022

Nama ReksadanaJenis1 Thn (%)AUM (Sep 2022)
Batavia Dana Saham SyariahSaham17,18%144,91 B
Manulife Syariah Sektoral Amanah Kelas ASaham12,58%265,94 B
BNP Paribas Pesona SyariahSaham9.49%0.77 T
Sucorinvest Sharia Equity FundSaham12.63%0.67 T
Sucorinvest Sharia Money Market FundPasar Uang4,28%3.32 T
Majoris Pasar Uang Syariah IndonesiaPasar Uang3.95%79.69 B
Schroder Syariah Balanced FundCampuran5.22%147.92 B
Avrist Balanced Amar SyariahCampuran12.37%23.50B
Sumber: Bibit

Baca juga: Apa Itu Pasar Modal? Mari Ketahui Lebih Lengkap di Sini!

Berikut tadi merupakan artikel berisi informasi mengenai reksadana syariah. Apabila ingin membaca artikel lain mengenai investasi, Anda dapat mengakses Inklusi Uang untuk membaca artikel menarik lainnya.

QA

Otoritas Jasa Keuangan. “7 FAKTA REKSA DANA SYARIAH

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Reksadana Syariah serta Perkembangannya di Indonesia

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Net working capital adalah salah satu aspek krusial dalam suatu perusahaan, sehingga tidak boleh diabaikan. Pasalnya, net working capital ini merupakan indikator likuiditas perusahaan dalam kemampuan membayar hutang jangka pendek. Dalam perhitungannya, net working capital atau disebut juga dengan modal kerja bersih melibatkan beberapa komponen, seperti aset lancar dan kewajiban lancar. Yuk, pahami lebih lanjut […]
    Menjadi seorang investor harus cermat dalam mempertimbangkan potensi yang didapatkan dari penanaman modal pada suatu emiten. Salah satu cara efektif guna mengetahui kelayakannya adalah dengan menggunakan metode penilaian investasi.  Dengan metode penilaian investasi yang efektif, para investor dapat mengenali potensi produk sebelum memutuskan untuk menanamkan modal untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan profit atau keuntungan. Nah, […]

    Trending

    Salah satu cara mengukur potensi keuntungan suatu perusahaan adalah menggunakan rasio Basic Earning Power (BEP). Pengukuran ini mempresentasikan kemampuan sebuah bisnis dalam menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang. Rumus ini bisa digunakan apabila prakiraan kondisi operasional perusahaan adalah stabil.  Semakin tinggi BEP yang dihasilkan, maka semakin besar efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aset.Untuk lebih jelasnya, […]
    Yuk, mari mengenal apa itu PAB (Pajak Alat Berat).  Dalam dunia perpajakan, setiap alat atau properti yang digunakan untuk mempermudah kegiatan proyek. Alat-alat tersebut seperti traktor,crane, maupun bulldozer yang di mana merupakan objek yang dikenai pajak.   Terlepas dari fungsi alat berat di atas, tak jarang orang-orang tidak mengetahui apabila kendaraan besar dikenai pajak. Perpajakan alat […]
    Sejarah asuransi di Indonesia mulai diperkenalkan pada zaman kolonial Belanda. Pada zaman kolonial tersebut, banyak perubahan yang terjadi pada tatanan masyarakat. Mulai dari segi ekonomi, sosial, budaya, hingga pendidikan. Salah satu perubahan yang signifikan adalah ekonomi.  Kata “asuransi” berasal dari bahasa Belanda yaitu verzekering yang mempunyai arti pertanggungan. Pada saat itu, tepatnya masa kolonial Belanda, […]
    Late charge adalah salah satu risiko yang harus tertanggung oleh pemegang kartu kredit. Denda ini dapat menjadi beban finansial yang cukup besar, terutama jika tagihan kartu kreditnya dalam jumlah yang besar. Kartu kredit merupakan alat pembayaran non-tunai yang merupakan salah satu produk bank. Kartu kredit memungkinkan pemegang kartu untuk melakukan transaksi pembelian barang atau jasa, […]