1. Investasi

Reksadana Pendapatan Tetap: Cara Kerja, Keuntungan, & Risiko

Ketidakpastian kondisi ekonomi di masa yang akan datang membuat kita harus mempersiapkannya dari sekarang. Banyak orang yang sudah mulai merencanakan masa depan dengan mengatur keuangan, mulai dengan menabung atau investasi. Menabung uang memang cara yang paling aman dilakukan, namun tabungan jangka panjang akan menurunkan nilai uang karena adanya inflasi. Untuk itu, beberapa orang lebih memilih investasi.

Investasi adalah menanamkan modal yang diharapkan akan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Investasi cocok digunakan sebagai perencanaan jangka panjang karena nilainya tidak dipengaruhi oleh inflasi. Ada banyak jenis investasi yang bisa dilakukan, seperti investasi emas, saham, properti, dan reksadana.

Reksadana adalah sebuah wadah yang digunakan sebagai tempat pengumpulan uang. Ada banyak jenis reksadana yang pupuler di Indonesia, seperti reksadana saham, reksadana pasar uang, dan reksadana pendapatan tetap. Kali ini, Inklusi uang akan membahas jenis reksadana yang terakhir. Apa itu reksadana pendapatan tetap? Simak informasi lengkapnya berikut.

Key Takeaways

  • Reksadana pendapatan tetap adalah salah satu jenis reksadana yang memiliki tingkat fluktuasi yang cukup rendah.
  • Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana minimal yang disimpan dalam instrumen obligasi atau pasar uang dari dana investasi reksadana pendapatan tetap adalah 80%.
  • Risiko yang paling utama dari investasi reksadana pendapatan tetap adalah turunnya Nilai Aktiva Bersih (NAB).

Apa Itu Reksadana Pendapatan Tetap?

Reksadana pendapatan tetap adalah salah satu jenis reksadana yang memiliki tingkat fluktuasi yang cukup rendah. Sesuai dengan namanya, reksadana pendapatan tetap adalah investasi yang memiliki presentase pendapatan tetap. Sebagian besar dana yang Anda investasikan di reksadana pendapatan tetap akan disimpan dalam instumen obligasi atau surat utang, dan sisanya dialokasikan ke pasar uang.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana minimal yang disimpan dalam instrumen obligasi atau pasar uang dari dana investasi reksadana pendapatan tetap adalah 80%. Itu berarti, Anda bisa mendapatkan keuntungan tetap dari instrumen obligasi tersebut yang akan diberikan setiap bulan atau setiap tiga bulan sekali.

Cara Kerja Reksadana Pendapatan Tetap

Bagi Anda yang masih bingung bagaimana cara kerja jenis reksadana ini, Inklusi Uang akan menggambarkan bagaimana cara kerjanya. Cara kerja reksadana pendapatan tetap adalah sebagai berikut. 

Pertama, Anda sebagai investor akan memberikan dana investasi kepada manajer investasi. Manager investasi adalah pihak yang akan mengatur dan mengelola investasi Anda. Lalu, manajer investasi akan mengalokasikan dana Anda kepada instrumen-instrumen yang akan memberikan Anda pendapatan tetap dari surat utang atau obligasi.

Manajer investasi akan mengelola portofolio investasi Anda agar Anda bisa memperoleh keuntungan. Anda juga akan mendapatkan laporan secara berkala mengenai performa portofolio investasi yang dikelola oleh manajer investasi.

Keuntungan Reksadana Pendapatan Tetap

Keuntungan berinvestasi dengan reksadana pendapatan tetap adalah kemungkinan tingkat fluktuasi yang rendah. Sebagian besar dana yang dialokasikan kepada instrumen obligasi atau surat utang membuat jenis reksadana ini lebih stabil dari jenis lainnya. Nilai keuntungannya juga lebih besar dibandingkan dengan reksadana pasar uang, yaitu sekitar 6-10% per tahun.

Berinvestasi dengan reksadana ini juga sangat terjangkau. Mulai dari 10 ribu rupiah saja, Anda sudah bisa mulai berinvestasi di reksadana pendapatan tetap. Investasi ini juga bisa diperjualbelikan kapan saja, baik seluruhnya maupun sebagian. Proses pencairan dananya hanya membutuhkan waktu 3-4 hari saja, sehingga tak perlu waktu lama untuk menikmati hasil investasi.

Keuntungan lainnya berinvestasi dengan reksadana pendapatan tetap adalah bebas pajak. Para investor bisa menikmati hasil investasi secara penuh karena reksadana tidak termasuk objek pajak. Aktivitas pengelolaan investasinya juga tergolong cukup aman karena diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis investasi yang cocok dilakukan dengan jangka waktu menengah, yaitu sekitar 3-7 tahun. Dengan potensi keuntungan yang cukup menjanjikan, reksadana pendapatan tetap adalah salah satu jenis investasi dengan risiko menengah. Reksadana pendapatan tetap memiliki risiko yang lebih kecil dari saham, namun lebih tinggi dari pasar uang.

Risiko yang paling utama dari investasi reksadana pendapatan tetap adalah turunnya Nilai Aktiva Bersih (NAB). Nilai Aktiva Bersih adalah nilai bersih untuk sebuah unit reksadana. Singkatnya, NAB adalah harga satu unit reksadana yang bisa mengalami fluktuasi atau naik turun harga. Jika Nilai Aktiva Bersih turun, maka keuntungan yang didapatkan juga menurun atau bahkan mengalami kerugian.

Kerugian yang didapatkan dari investasi ini juga tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) seperti bank. Oleh karena itu, investor harus memilih manajer investasi yang kompeten untuk mengelola portofolio investasi agar tidak mengalami kerugian.

Contoh Cara Menghitung Reksadana Pendapatan Tetap

Keuntungan dari reksadana pendapatan tetap adalah selisih Nilai Aktiva Bersih ketika pembelian dan penjualan. Jika NAB penjualan lebih tinggi daripada NAB pembelian, maka investor akan mendapatkan keuntungan. Sebelum menghitung keuntungan, Anda juga harus mengetahui jumlah unit reksadana yang Anda miliki. Cara menghitung unit dan keuntungan reksadana pendapatan tetap adalah sebagai berikut.

Menghitung Unit Reksadana

Dana investasi : NAB

Menghitung Keuangan Reksadana

Total NAB jual – Modal Investasi

Contoh kasus:

Angga membeli reksadana dengan modal investasi sebesar Rp 30.000.000 pada bulan Januari 2022. Nilai Aktiva Bersih pada saat itu adalah Rp 1.500 per unit. Lalu pada bulan Desember 2022, NAB naik menjadi Rp 1.800. Dari kasus tersebut, kita dapat menentukan berapa unit reksadana yang dimiliki oleh Angga dan berapa besar keuntungan yang diperoleh Angga. 

Jumlah Unit Reksadana Angga

Dana investasi : NAB = Jumlah unit

Rp 30.000.000 : Rp 1.500 = 20.000 unit reksadana

Angga memiliki 20.000 unit reksadana. Pada bulan Desember, NAB mengalami kenaikan menjadi Rp 1.800 per unit. Angga ingin menjual seluruh reksadana yang dia punya. Maka, total NAB jualnya adalah Rp 36.000.000

Keuntungan yang Diperoleh Angga

Total NAB jual – Modal Investasi = Keuntungan

Rp 36.000.000 – Rp 30.000.000 = Rp 6.000.000

Jadi, keuntungan yang Angga dapatkan selama satu tahun berinvestasi di reksadana penghasilan tetap adalah Rp 6.000.000

Rekomendasi Reksadana Pendapatan Tetap Terbaik Terbaru

Kali ini, Inklusi uang juga akan memeberikan kamu rekomendasi reksadana pendapatan tetap terbaik versi Inklusi Uang. Rekomendasi ini ditentukan melalui hasil kinerja selama satu tahun. Simak tabel di bawah ini.

Reksadana Pendapatan TetapManajer InvestasiMinimum PembelianImbal Hasil per Tahun
Sucorinvest Bond FundSucor Asset ManagementRp 100.00015.75% per tahun
Capital Fixed Income FundCapital Asset ManagementRp 100.00013.94% per tahun
Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas AManulife Investment ManagementRp 10.00013.50% per tahun
Reksadana Kehati Lestari Kelas GBahana TCW Investment ManagementRp 100.00012.52% per tahun
RHB Fixed Income FundRHB Asset ManagementRp 100.00012.86% per tahun
TRAM Strategic PlusTrimegah Asset ManagementRp 100.00012.38% per tahun

Baca juga: Total Aktiva: Pengertian, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Nah, itulah informasi dari Inklusi Uang yang bisa Anda simak sebagai bahan pertimbangan untuk berinvestasi. Semoga informasi ini dapat menambah pengetahuan Anda tentang reksadana pendapatan tetap sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi di sana.

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Reksadana Pendapatan Tetap: Cara Kerja, Keuntungan, & Risiko

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Net working capital adalah salah satu aspek krusial dalam suatu perusahaan, sehingga tidak boleh diabaikan. Pasalnya, net working capital ini merupakan indikator likuiditas perusahaan dalam kemampuan membayar hutang jangka pendek. Dalam perhitungannya, net working capital atau disebut juga dengan modal kerja bersih melibatkan beberapa komponen, seperti aset lancar dan kewajiban lancar. Yuk, pahami lebih lanjut […]
    Menjadi seorang investor harus cermat dalam mempertimbangkan potensi yang didapatkan dari penanaman modal pada suatu emiten. Salah satu cara efektif guna mengetahui kelayakannya adalah dengan menggunakan metode penilaian investasi.  Dengan metode penilaian investasi yang efektif, para investor dapat mengenali potensi produk sebelum memutuskan untuk menanamkan modal untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan profit atau keuntungan. Nah, […]

    Trending

    Salah satu cara mengukur potensi keuntungan suatu perusahaan adalah menggunakan rasio Basic Earning Power (BEP). Pengukuran ini mempresentasikan kemampuan sebuah bisnis dalam menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang. Rumus ini bisa digunakan apabila prakiraan kondisi operasional perusahaan adalah stabil.  Semakin tinggi BEP yang dihasilkan, maka semakin besar efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aset.Untuk lebih jelasnya, […]
    Yuk, mari mengenal apa itu PAB (Pajak Alat Berat).  Dalam dunia perpajakan, setiap alat atau properti yang digunakan untuk mempermudah kegiatan proyek. Alat-alat tersebut seperti traktor,crane, maupun bulldozer yang di mana merupakan objek yang dikenai pajak.   Terlepas dari fungsi alat berat di atas, tak jarang orang-orang tidak mengetahui apabila kendaraan besar dikenai pajak. Perpajakan alat […]
    Sejarah asuransi di Indonesia mulai diperkenalkan pada zaman kolonial Belanda. Pada zaman kolonial tersebut, banyak perubahan yang terjadi pada tatanan masyarakat. Mulai dari segi ekonomi, sosial, budaya, hingga pendidikan. Salah satu perubahan yang signifikan adalah ekonomi.  Kata “asuransi” berasal dari bahasa Belanda yaitu verzekering yang mempunyai arti pertanggungan. Pada saat itu, tepatnya masa kolonial Belanda, […]
    Late charge adalah salah satu risiko yang harus tertanggung oleh pemegang kartu kredit. Denda ini dapat menjadi beban finansial yang cukup besar, terutama jika tagihan kartu kreditnya dalam jumlah yang besar. Kartu kredit merupakan alat pembayaran non-tunai yang merupakan salah satu produk bank. Kartu kredit memungkinkan pemegang kartu untuk melakukan transaksi pembelian barang atau jasa, […]