1. Ekonomi Bisnis

Aset Tidak Berwujud: Mengenal Karakteristik dan Jenisnya

Aset tidak berwujud adalah aset yang tidak memiliki wujud fisik tetapi masih dapat dilihat dan diidentifikasi.

Meskipun tidak memiliki bentuk fisik, aset tak berwujud masih dapat menghasilkan pendapatan. Bagi sebuah perusahaan, aset tak berwujud pun bisa mendatangkan keuntungan dalam jangka panjang.

Agar dapat memahami aset tidak berwujud lebih mendalam, mari simak informasi selengkapnya di bawah ini.

Apa itu Aset Tidak Berwujud?

Suatu perusahaan memiliki berbagai macam aset, baik fisik maupun non fisik. Aset fisik merupakan yang bisa dilihat seperti gedung, perlengkapan, mesin, kendaraan, dan karyawan.

Di samping aset fisik tersebut, suatu perusahaan memiliki aset non fisik atau tidak berwujud yang merupakan sumber daya tak berbentuk.

Aset tidak berwujud adalah aset yang diukur dengan satuan tertentu dan dapat menghasilkan profit untuk perusahaan dalam jangka panjang.

Peran aset tidak berwujud diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 19 IAI, 2002:19.5 (Revisi 2000) yang menyatakan bahwa:

  • Aset tidak berwujud dapat diidentifikasi, diketahui nilainya, dan dikategorikan berdasarkan jenisnya.
  • Aset tidak berwujud tidak memiliki bentuk fisik.
  • Aset tidak berwujud dapat digunakan untuk mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhan administratif perusahaan.
  • Aset tidak berwujud merupakan sumber daya yang dikeluarkan untuk mendapatkan sumber daya lain yang juga tidak berwujud.

Meskipun tidak memiliki bentuk fisik, aset tidak berwujud adalah aset yang masih bernilai bagi perusahaan dan berpengaruh dalam dunia bisnis.

Karakteristik Aset Tidak Berwujud

Mengingat bentuknya yang tidak bisa dilihat, aset tidak berwujud perlu dicatat dengan cara tertentu, yaitu berdasarkan nilai harga perolehannya.

Perusahaan hanya perlu memasukkan biaya pembelian langsung ke dalam biaya perolehan aset tidak berwujud.

Adapun biaya perolehan tersebut tidak termasuk biaya pengembangan internal atau penciptaan aset.

Dengan kata lain, aset tidak berwujud yang dibuat secara internal tidak akan memiliki biaya pengeluaran sama sekali dalam neraca atau pencatatan akuntansi.

Namun perlu diketahui bahwa beberapa aset tidak berwujud hanya dapat menghasilkan profit pada periode tertentu.

Aset tidak berwujud dengan umur ekonomis terbatas, kurang lebih sekitar 40 tahun, hanya dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam periode waktu tersebut.

Jika tidak lagi memiliki kegunaan bagi suatu perusahaan, aset tersebut akan diamortisasi yang merupakan pengurangan nilai aset secara bertahap yang hanya bisa dilakukan pada periode ekonomisnya.

Jenis-Jenis Aset Tidak Berwujud

Terdapat tujuh jenis aset tidak berwujud yang umumnya dimiliki perusahaan, di antaranya adalah:

1. Hak Cipta

Salah satu aset tidak berwujud adalah hak cipta yang merupakan hak eksklusif terhadap suatu hasil karya.

Hak cipta memungkinkan pencipta suatu hasil karya untuk membatasi penggandaan karyanya yang dinilai tidak sah.

Adapun hak cipta berlaku untuk karya seni atau karya cipta yang meliputi puisi, drama, film, koreografi, musik, lukisan, patung, foto, desain, dan masih banyak lainnya.

Suatu perusahaan dapat memperjualbelikan hak cipta kepada individu atau entitas lain sesuai dengan kesepakatan yang berlaku.

2. Merek Dagang

Dikenal juga dengan sebutan cap dagang atau trademark, merek dagang adalah nama atau simbol suatu produk tertentu yang merupakan jenis kekayaan intelektual.

Aset tidak berwujud ini dapat ditemukan pada kemasan atau label suatu produk. Merek dagang merupakan identitas suatu bisnis yang membedakannya dengan kompetitor di pasar.

Perlu diketahui bahwa merek dagang memiliki umur ekonomis yang tidak terbatas. Hal tersebut membuat aset tidak berwujud ini jarang diarmotisasi.

3. Leasehold

Diambil dari kata “lease” dan “hold”, aset tidak berwujud ini merupakan aset non moneter yang dapat disewakan.

Hal tersebut membuat leasehold membutuhkan biaya perawatan yang tercatat dalam perbaikan aset yang disewa dari suatu instansi atau seorang individu.

4. Goodwill

Goodwill sebagai salah satu aset tidak berwujud adalah hal yang mencerminkan nilai harga beli perusahaan di atas harga pasar dari suatu perusahaan yang dibeli.

Aset tidak berwujud ini menggambarkan keterampilan dan kemampuan manajemen perusahaan. Perusahaan yang memiliki goodwill biasanya memiliki reputasi baik di mata konsumen.

5. Paten

Paten adalah hak eksklusif terhadap suatu penemuan di bidang teknologi yang diberikan kepada inventor yang melakukan kegiatan invensi sendiri atau dengan pihak lain.

Di Indonesia sendiri, hak paten berlaku selama 20 tahun untuk perusahaan. Adapun hak paten sederhana diberikan selama 10 tahun.

Apabila paten penjualan tidak berfungsi sesuai dengan biaya penjualan dapat diamortisasi.

6. Franchises

Jenis aset tidak berwujud ini merupakan lisensi yang diberikan kepada penerima waralaba dengan tujuan untuk membantu mereka mengakses info bisnis, proses, dan merek dagang.

Untuk mendapatkan franchises, pemilik usaha perlu membayar biaya awal dan biaya tahunan kepada perusahaan pemilik waralaba.

7. Rahasia Dagang

Beberapa jenis aset tidak berwujud adalah hak kekayaan intelektual, tidak terkecuali rahasia dagang.

Rahasia dagang terdiri dari formula, desain, proses, praktik, instrumen, pola, dan gabungan informasi bisnis. Nilai ekonomisnya tidak diketahui oleh publik karena sifatnya yang rahasia.

Demikian informasi seputar aset tidak berwujud, mulai dari karakteristik, hingga jenis-jenisnya.

Aset tidak berwujud adalah suatu hal bernilai bagi perusahaan meskipun tidak memiliki wujud fisik.

Untuk itu, pastikan setiap aset tidak berwujud mendapatkan perhatian lebih agar dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang!

Tidak ada komentar

Komentar untuk: Aset Tidak Berwujud: Mengenal Karakteristik dan Jenisnya

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Net working capital adalah salah satu aspek krusial dalam suatu perusahaan, sehingga tidak boleh diabaikan. Pasalnya, net working capital ini merupakan indikator likuiditas perusahaan dalam kemampuan membayar hutang jangka pendek. Dalam perhitungannya, net working capital atau disebut juga dengan modal kerja bersih melibatkan beberapa komponen, seperti aset lancar dan kewajiban lancar. Yuk, pahami lebih lanjut […]
    Menjadi seorang investor harus cermat dalam mempertimbangkan potensi yang didapatkan dari penanaman modal pada suatu emiten. Salah satu cara efektif guna mengetahui kelayakannya adalah dengan menggunakan metode penilaian investasi.  Dengan metode penilaian investasi yang efektif, para investor dapat mengenali potensi produk sebelum memutuskan untuk menanamkan modal untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan profit atau keuntungan. Nah, […]

    Trending

    Salah satu cara mengukur potensi keuntungan suatu perusahaan adalah menggunakan rasio Basic Earning Power (BEP). Pengukuran ini mempresentasikan kemampuan sebuah bisnis dalam menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang. Rumus ini bisa digunakan apabila prakiraan kondisi operasional perusahaan adalah stabil.  Semakin tinggi BEP yang dihasilkan, maka semakin besar efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aset.Untuk lebih jelasnya, […]
    Yuk, mari mengenal apa itu PAB (Pajak Alat Berat).  Dalam dunia perpajakan, setiap alat atau properti yang digunakan untuk mempermudah kegiatan proyek. Alat-alat tersebut seperti traktor,crane, maupun bulldozer yang di mana merupakan objek yang dikenai pajak.   Terlepas dari fungsi alat berat di atas, tak jarang orang-orang tidak mengetahui apabila kendaraan besar dikenai pajak. Perpajakan alat […]
    Sejarah asuransi di Indonesia mulai diperkenalkan pada zaman kolonial Belanda. Pada zaman kolonial tersebut, banyak perubahan yang terjadi pada tatanan masyarakat. Mulai dari segi ekonomi, sosial, budaya, hingga pendidikan. Salah satu perubahan yang signifikan adalah ekonomi.  Kata “asuransi” berasal dari bahasa Belanda yaitu verzekering yang mempunyai arti pertanggungan. Pada saat itu, tepatnya masa kolonial Belanda, […]
    Late charge adalah salah satu risiko yang harus tertanggung oleh pemegang kartu kredit. Denda ini dapat menjadi beban finansial yang cukup besar, terutama jika tagihan kartu kreditnya dalam jumlah yang besar. Kartu kredit merupakan alat pembayaran non-tunai yang merupakan salah satu produk bank. Kartu kredit memungkinkan pemegang kartu untuk melakukan transaksi pembelian barang atau jasa, […]